AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Penglibatan British di Naning

21 December 2015 - dalam History Oleh azro_el-fib11

PENDAHULUAN

            Naning merupakan nama daripada sejenis serangga yang berwarna kuning yang mempunyai sengat yang amat berbisa, yang menjadi nama sebuah daerah kecil yang mempunyai luas sekitar 200 mile persegi, berbatasan dengan wilayah Rembau dan Malaka dan hanya berjarak sekitar sepuluh mile dari pusat kota Malaka, pada hasil sensus penduduk di tahun 1829 populasi penduduk hanya sekitar 4875 orang, dan sekitar 1200 laki-laki sebagai pekerja diberbagai sektor terutama pertanian, Crawfurd mendiskripsikan keadaan miskin masyarakat Naning sebelum Belanda datang, kebutuhannya masih tergantung oleh hutan, dan hasil bumi mereka diantaranya beras, timah, semacam rotan, gambir dan buah-buahan, pendapatan perkapita sekitar $ 3,000 per tahun.[1]

            Dipimpin oleh seorang Penghulu yang dipilih berdasarkan musyawarah masyarakat, dan ada pembesar dalam setiap Suku yang ada, Ada empat suku yang ada di Naning. Ada 25 buah mukim, (22 di daerah Alor Gajah, 2 lagi di daerah Jasin). Pentadbiran  di atur dengan sistem adat, di bawah penghulu ada namanya Tua mempunyai tugas untuk mengumpulkan pajak dari rakyat, yang memimpin sebuah suku dalam Mukim, dan juga ada orang yang dipanggil Buapak yang di tokoh kan dalam masyarakat.[2]

            Kerajaan kecil ini adalah kerajaan pertama masuknya masyarakat Melayu dari Minangkabau Sumatra antara abad 16-17 Masehi, dan merupakan kerajaan awal yang menjadi bakal terbentuknya Negeri Sembilan, yang sekarang menjadi tetangganya, pada awal berdirinya Naning mengakui kedaulatan sultan Johor, seperti kerajaan lain di Negeri Sembilan, dan pada tahun 1757 Sultan Johor menyerahkan hak kedaulatan ke Belanda.

            Ketika Johor mulai dikuasai Belanda, Naning di anggap wilayah yang tidak produktif dan Naning belum  dimanfaatkan oleh Belanda, Portugis yang menguasai Malaka saat itu yang mulai menyerang Naning dengan dipimpin oleh Diego de Azambuja di tahun 1586, yang kemudian meminta agar Naning menjual hasil bumi ke Malaka, namun penghulu Naning tidak mau menjual hasil bumi ke Malaka dan akibatnya tentara Portugis kekurangan bahan Makanan, hingga akhirnya Malaka direbut oleh Belanda dan adanya perjanjian untuk meminta Naning membayar pajak sepersepuluh kepada pentadbiran Belanda di Malaka.

            Berawal dari Perjanjian Belanda ini, kemudian pada masa penjajahan British terjadi persengketaan terhadap wilayah Naning, Governor Fullerton yang mengirim Lewis untuk melakukan penelitian terhadap sejarah Wilayah Naning memberikan penelitian palsu yang menegaskan bahwa Naning termasuk wilayah Melaka, hal ini yang menimbulkan konflik antara Naning yang dipimpin penghulu Abdul Said memperkukuh pendapatnya bahawa Naning adalah wilayah berdaulat tidak pernah masuk kekuasaan Malaka, kemudian ditegaskan oleh pendapat Braddell bahwa memang Naning bukan termasuk wilayah Malaka dan tidak seharusnya mendapat layanan yang sama seperti wilayah jajahan British di Malaka. Inilah awal terjadinya konflik akibat kasus tuntutan wilayah Naning oleh British hingga mengakibatkan terjadinya perang Naning.

 

 

 

ISI

Sistem Pentadbiran Naning

            Naning mempunyai dua puluh lima pemukiman, yang bersebelahan dengan kerajaan Melaka dibagian utara dan bersempadan dengan Rembau dan Tampin iaitu wilayah dari Negeri Sembilan, manakala sebelah selatan terdapat mukim seperti Beringin, Durian Tunggal dan Kesang dimana mereka mengikuti kebiasaan Adat Melayu yang biasa disebut Adat Temenggong, sementara yang bermukim di daerah pantai dari Kuala Linggi mengikuti Adat laut, kawasan ini mempunyai luas sekitar 220 mile persegi dan paling banyak menyebar di daerah selatan atau Luak dimana Adat Perpateh berkembang, tapi itu terputus akibat politik penjajah selama empat setengah abad dari Portugis, Belanda dan British datang ke Malaka.   

            Autoriti dalam pengawasan sistem adat lebih luas dari pada aturan terhadap permasalahan keluarga dan warisan, yang biasa dijalankan dalam kawasan pemukiman dibawah pengawasan Penghulu dan Sidangs dia, jadi mereka memutuskan sesuatu bertempat di pejabat, mereka pun menaati arahan yang diberikan pejabat tapi mereka tidak pernah dicalonkan. Tua, atau Sidangs dan Buapak mereka tidak mampu menunjukkan sebuah perkiraan pendapatan dan pengeluaran pentadbiran, beberapa pajak tanah dibebaskan oleh Tua dan dia mendapatkan pendapatan lain dari pembayaran bonus atas tanah yang dia kuasai. Dalam pentadbiran tidak punya kekuatan untuk melantik dan memecat Tua, kerana dia punya kekuatan hak Veto.[3]

            Terjadinya perubahan sistem pentadbiran dari awalnya pemilihan dilakukan secara musyawarah, saat kedatangan British Penghulu dipilih secara turun temurun di awali oleh Abdul Said, semacam ada konspirasi dan intervensi British terhadap sistem ini, awalnya Abdul Said sepakat dengan system macam ini karena dapat menguntungkan keluarganya dan golongannya karena putranya nanti akan jadi Penghulu setelah dia meninggal, jika dilihat secara historis British mengadopsi sistem yang ada dikerajaannya untuk di aplikasikan dalam Negeri-negeri jajahannya, semacam di Malaka, Johor dan Negeri-negeri yang lain, Adanya system ini menghapus system demokrasi rakyat Naning, munculnya kelas baru dari keluarga Penghulu yang tidak dapat digantikan oleh rakyat yang lain dalam struktur pentadbiran Naning, seperti kelas Ksatria dalam agama Hindu yang memimpin Pentadbiran. Lembaga adat serta beranggotakan oleh Tiang Balai dan Isi Balai mengadakan Persidangan untuk memilih calon yang layak diantaranya harus dari suku Semelenggang Taboh, berketurunan Dato’ Naning serta beristerikan dengan orang berketurunan Dato’ Naning dari suku Semelenggang Naning, dan penyandang pesaka Dato’ Naning akan menjalankan tugas seumur hidup[4].

            Penghulu juga bertugas mengumpulkan pajak dari rakyat, dari hasil ini seorang Penghulu akan memperkaya diri dengan pajak kedatangan Belanda pun menarik pajak yang lebih tinggi dari Penghulu Sebelumnya, yang semakin menyengsarakan orang Melayu, sebelumnya Abdul Said tanda tangani perjanjian penarikan upeti ini dengan Belanda, Berdampak pada peran Penghulu yang hanya menjadi kaki tangan Belanda, untuk menarik upeti dan harus menuruti nasehat Belanda dalam Pentadbiran, hingga kedatangan British yang kemudian ingin berlaku sama macam Belanda untuk menarik upeti terhadap Naning, tak mau jadi kaki tangan kedua kalinya Abdul Said memberontak terhadap kebijakan British yang menganggap jika Naning termasuk wilayah Malaka, karena British telah berjaya Menaklukan Malaka.

Proses Konfrontasi Kolonialism Hingga Perang Naning, 1831-1832

            Sebuah permasalahan tanah kekuasaan yang berujung pada perang Naning yang menjadi sejarah penting Malaka sejak 1824 hingga 1867, sebuah kesalah pahaman atas adanya ketidak jelasan informasi mengenai wilayah Naning, yang mengakibatkan terjadinya ekspedisi dua angkatan militer, hasilnya adalah bahwa setelah sembilan bulan datang seribu dua ratus tentara India membantai beberapa ratus pemberontak Melayu Bersenjata, dan memperoleh harta rampasan sekitar $ 100 dengan biaya  £ 100 000. sedangkan tipu daya curang pedagang Belanda di Malaka yang ikut bertanggung jawab atas perang, hasilnya hampir sama dan kesalahan harus ditanggung oleh Fullerton, governor selat pemukiman dan Lewis, pengawas Tanah Malaka,

            Lebih dari satu abad sebelumnya Naning sangat membatasi ketergantungan terhadap Belanda. Karena wilayah penjajahannya pun belum pasti. Mereka masih menganggap Naning wilayah yang tidak produktif, baru setelah Belanda tahu jika Naning merupakan tempat yang subur pada saat itu, Di tahun 1643 Belanda menginvasi Naning untuk dapat menjajah dan melakukan perjanjian dengan orang melayu Naning untuk membayarkan upeti setiap tahun dari sepersepuluh dari hasil produksi. Penghulu Naning akan datang setiap tahun ke Malaka untuk memberi penghormatan, membayar upeti dan akan diberi nasehat oleh Belanda untuk hal ehwal Pentadbiran, meskipun ini sebuah perjanjian, namun, Belanda Malaka tampaknya mempunyai sedikit ketakutan akan “Pengkhianatan dan Pengampunan Minangkabau, di abad kedelapan belas Penghulu terpilih secara turun temurun dari keluarga Abdul Said, dia adalah seorang pemimpin pelawan penguasa pada saat perang 1831-32 tapi sebelum itu dia telah melakukan perjanjian yang telah disetujui oleh Belanda.[5]

Dalam kenyataannya hak Belanda  dalam praktek kekuasaannya melebihi apa yang telah disepakati secara tertulis, orang Melayu sangat sengsara dengan kewajiban untuk membayar sepersepuluh sebagai upeti. Dan Belanda dapat mengumpulkan upeti dengan damai dan sedikit kekerasan untuk meminta pembayaran penuh.  Mereka tidak mampu mencoba menegakkan hak mereka untuk menaklukkan Naning, karena mereka melihat tidak mendapatkan sesuatu yang lebih mungkin karena wilayah yang kecil dan miskin untuk kembali membayarkan upeti dalam sebuah peperangan. Sekitar tahun 1765 Belanda menurunkan nominal pembayaran upeti setiap tahunnya dari sepersepuluh, ke 400 gantang, per gantang adalah 4 liter padi, sekitar seribu dari total pemotongan.[6]

            Perjanjian di tahun 1643 itu mengontrol administrasi dan memberikan pajak ke Belanda sepersepuluh, terjadinya kesalahan governor Fullerton dan pemerintahan yang gagal merealisasikan hak yang telah usang dan terlalu lama tidak digunakan, maka orang Melayu  melupakan apa yang telah mereka sepakati.

            Semasa awal pendudukan British di Melaka pada tahun 1795-1818, Naning adalah kawasan yang terjajah, tetapi kurang diperhatikan baru mulai tahun 1801, sebuah perjanjian dilakukan oleh Abdul Said seorang penghulu atau ketua Masyarakat Naning oleh Kolonel taylor Resident British di Melaka. Dengan adanya perjanjian ini, Naning berjanji bahwa mereka kekal setia dan taat, dan tidak akan melakukan tindakan yang akan merugikan kompeni dan hanya berdagang dengan Malaka saja, British tidak menerima sepersepuluh daripada pengeluaran setiap produk untuk golongan yang miskin, bayaran cukai akan diringankan yakni menjadi 400 gantang beras pertahun seperti mana yang diterima oleh Belanda. Ini menjadi salah satu cara membayar dengan menggunakan tanda terima ketika penghulu atau salah satu pemimpin datang ke Malaka untuk membayarkan upeti tahunan. Ini juga menyatakan bahwa setiap kali penghulu tidak mendapatkan hasil apapun, British tidak akan menjadikan orang melayu menjadi kandidat atau akan mengganti dengan orang lain, Dalam perjanjian yang dilakukan oleh governor Fullerton berpendapat bahwa Naning adalah salah satu wilayah Malaka, tapi Braddell mempunyai pendapat yang berlawanan, dia berpendapat bahwa Naning bukan merupakan wilayah Malaka dan harus diberi perlakuan yang berbeda, Penghulu selanjutnya memisahkan wilayah hukum di Naning, Dia masih punya kekuatan semasa hidup hingga dia mati, sampai tahun 1807, ketika Farquhar seorang residen British di Melaka, kehilangan kekuatan ketika dia kemudian dihukum mati. Meskipun itu tidak berpengaruh apa-apa, kejadian itu tidak membuktikan Penghulu atau pemimpin datang ke Malaka semasa membayar upeti mereka setiap tahun.[7]

            Keadaan itu terjadi hingga tahun 1827, ketika governor Fullerton memulai investigasi untuk menjawab permasalahan wilayah Malaka, perhatian ini terlihat dalam permasalahan Naning, dan sejak pendapat yang diberikan Lewis, yang mengawasi wilayah Malaka, dan menetapkan status wilayah Naning dalam wilayah Malaka, Lewis bermaksud jahat untuk memerangi  Naning,  dan puncaknya terjadi peperangan dari tahun 1828 to 1831 memperlihatkan salah usaha British untuk mengambil semua haknya di Naning, British menciptakan konsep pemilihan pemimpin dengan system tirani, dan penghulu menjadi pekerja praktis dari British dan British akan menintervensi dan memproteksinya. Dia pun salah menilai tentang orang Malay sikap yang percaya kepadanya dan untuk tidak resisten terhadapnya, dan mereka ingin membebaskan dari sistem tirani, segala sesuatu itu memang telah telat dilakukan namun mereka masih ingin mencegahnya, Sayangnya Lewis dapat pengaruh dari Guvernor dan dia menolak pemikiran lewis dalam organisasi di Penang, Governor Fullerton secara personal juga mempengaruhi proses negosiasi dengan Naning, Fullerton yang penuh semangat, tekad dan agresif kepada setiap orang yang kerjanya lambat.

            Lewis yang memulai investigasi tentang status Naning di tahun 1827 hingga akhirnya dia membuat laporan final 11 maret 1829. Sementara itu pemerintah British menerima kumpulan laporan itu dari waktu ke waktu, meskipun tak sepenuhnya laporan itu lengkap, Setelah Perang tahun 1831, Ibbetson suksesor dari Fullerton, Belanda menilai bahwa ada perbedaan pendapat antara Lewis dan Fullerton bahwa Naning adalah wilayah kesatuan Malaka, dan di bawah kedaulatan British. Fullerton diperintahkan untuk datang ke Dewan Penang untuk melaporkan secara benar ketika adanya penentangan kebijakan Guvernor. Jika itu fakta ditemukan di tahun 1831 maka datanglah secercah cahaya tiga tahun sebelumnya, perang Naning tidak akan terjadi.

            Saat Abdul Said sebagai Penghulu Naning, tidak mempunyai kekuatan yang lebih, dia senang dengan reputasinya menjadi manusia yang menjaga kesuciannya, diantara dua golongan rakyat dan orang Malaya yang wilayahnya bertetanggaan. Arogan dan ambisi dia tunjukkan untuk mendapat penghormatan dari orang Malaya, dan meniru gelar dan tindakan dari Mansur Shah, di abab 15 merupakan abad terbaik, Sultan kerajaan Malaka dan mencapai kejayaan tertinggi. Selanjutnya Abdul Said menipu untuk menghancurkan bentuk penasehat British, seperti apa yang dilakukan Belanda pada perniagaan di Malaka. Mendorong untuk menghalangi kedatangan pedagang, dia meminta kepada Fullerton agar tidak melakukan aksi responsive kepada pejabat bawahan, dimana sifat superior yang dimilikinya tidak akan berguna dalam peperangan, mereka berharap dalam perang itu, akan membawa keuntungan yang besar untuk diberikan kepada tentara British.

            Akhirnya peperangan terjadi Naning yang di pimpin Abdul Said sebagai penentangan yang bersifat Xenophobis yaitu menentang bangsa asing sehingga keluar dari bumi Negara Mereka, Penentangan di Naning merupakan gerakan penentangan pertama yang terjadi di Tanah Melayu yang melibatkan rakyat naming di tahun 1831, meskipun pergerakan ini belum bisa dikatakan sebagai bentuk nasionalisme, Abdul Said yang mampu menggembeling tenaga masyarakat tempatan untuk bangkit melawan British, dalam perang itu Naning melawan tentara British yang terlatih dalam peperangan secara taktikal, hingga akhirnya Abdul Said dapat dikalahkan dalam tahun 1832, menyebabkan beliau bersama-sama pengikutnya bersembunyi di hutan Tampin. Beliau melancarkan perang gerilya dalam usaha melawan penjajah, hal ehwal ini dikenal sebagai perang gerila pertama secara militant dilakukan oleh seorang pembesar Melayu. Disebabkan muslihat British yang tersusun, di samping orang-orang Melayu sendiri membelot, akhirnya Dato’ Abdul Said menyerah kalah. Dengan proses panjang pemberian Upah yang besar bagi siapa yang bisa menangkap Abdul Said, seperti dalam kutipan manuskrip di bawah ini.[8]

Dalam Melacca Police Dep tanggal 9 Februari 1832, tertulis “Barangsiapa yang boleh menangkap Dol Said orang yang kepala Derhaka yang ada ter sebut di bawah ini terdapat tiada melainkan boleh-lah menerima upah-nya saribu ringgit besar”….. “ Dan lagi brang siapa yang boleh membawa pula orang2 yang tersebut di bawah ini maka boleh menerima upah-nya kepada sa-saorang dua ratus ringgit besar”, ada bonus satu ribu ringgit untuk orang yang menangkap Abdul Said dan ada upah dua ratus ringgit buat orang yang menangkap Andika (Suku anak Melaka di Naning), Pita Melayu (tinggal di daerah Gajah Mati), Pendekar Tambi (tinggal di Melaka Pindah), Enche’ Muhammad dan Enche’ Had (Jamnati Tanah Muar). Stelah lama Abdul Said tidak tertangkap muncul Pelekat dari Company Malaka, tanggal 24 Juli 1832, “Memberitahu kepada segala orang barang siapa menangkap Dol Said yang lari dari Naning itu boleh mendapat kurnia dari Company dua ribu Ringgit besar adanya”.[9]                     

             Kekalahan Dato’ Abdul Said dalam tahun 1832 oleh British, membuat Naning dalam pimpinannya menerima penakhlukan British dan berjanji menjadi penghulu yang patuh kepada kemauan penjajah, di samping itu Abdul Said juga menerima sara hidup bulanan hingga di akhir hayatnya. Kekalahan Abdul Said memang tidak dapat dielakkan karena Kemampuan tentara British jauh lebih hebat dari penduduk Naning hanya rakyat biasa yang berperang secara sukarela dalam keadaan terdesak.

KESIMPULAN

Strategi British dalam Pentadbiran Naning telah tersusun rapi, dengan mulai menjadikan system turunan dalam pemilihan Penghulu Naning, sehingga British mampu mengkontrol dan mengintervensi setiap kinerja Penghulu, dia hanya menjadi pekerja praktis British untuk mengumpulkan upeti dari rakyat, yang masa itu keadaan ekonomi British di Malaka sedang krisis, Naning yang sebelumnya dianggap wilayah kecil tidak subur dan produktif, dikarenakan motif ekonomi British menginvasi untuk menguasai Naning.    

            Permasalahan yang terjadi di Naning merupakan contoh representative berbagai masalah yang muncul diberbagai daerah di Tanah Melayu, penentangan masyarakat Naning yang lebih Masive karena rakyat mau tergerak semuanya untuk ikut berperang melawan British, berbeda ketika di kerajaan-kerajaan lain yang hanya pembesar yang bergerak untuk menentang seperti kasus pembunuhan Birch oleh Maharajalela.

Kesadaran bersama rakyat sebagai kaum bawah yang tidak ada beda ketika membayar upeti masa pentadbiran pembesar-pembesar Melayu maupun ketika British datang menjajah, pembesar merasakan bagian mereka menurun dalam pendapatan pengambilan upeti, karena British mengambil beberapa bagian dari upah mereka. Walaupun hal ini juga terjadi di Naning tapi taktikal Abdul Said untuk mengakomodir dan menyadarkan rakyat untuk merasakan akibat penjajahan bersama, penarikan upeti yang kadang harus menggunakan kekerasan menjadi motif untuk bergerak dan menentang British dengan kekuatan bersama.

            Selain faktor tersebut juga faktor historis kasus tanah Naning yang sejak dulu berdaulat tidak masuk wilayah Malaka maupun Negeri Sembilan, namun sikap jahat Lewis yang banyak menipu terkait data riset yang dilakukan di Naning, kesadaran bersama ini pun tidak hanya diperkuat oleh keinginan Abdul Said yang bisa berjaya selamanya memimpin Naning, rakyat yang merasakan secara langsung kekejaman British tergerak hati untuk berperang dalam pimpinan Abdul Said walaupun mereka tak mampu mengalahkan kehebatan British.

 

BIBLIOGRAFI

Dharmala N.S, (2009), Perjuangan Bangsa Melayu Nasionalisme Di Negeri Sembilan (Dari 1830- Ke Alaf Baru),Selangor: Thinker’s Library Sdn. Bhd.

Jonathan Cave,(1996),  Naning in Melaka, Kuala Lumpur: The Council of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.

L.A Mills, (1960), British Malaya 1824-67, Selangor: Penerbit Academe Art & Printing Services Sdn Bhd.

Moh Rosli Salahudin, (2007),  Naning Luak Terbilang, Penang: Penerbit  Goal Intelligent Publishing Sdn Bhd.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    20.761